Categories
Default

AGROWISATA untuk Tingkatkan Omzet Agribismis Lele

Beberapa waktu berselang, pemilik Lucy Farm ini pun mengembangkan sayap ke bidang pelatihan. Ia mulai membuka kelas pelatihan bagi karyawan ataupun pensiunan yang ingin memulai usaha lele sangkuriang. “Daripada murni budidaya, pelatihan dan wisata sebenarnya lebih menguntungkan,” komentarnya. Dari pelatihan, bisnisnya pun mulai membaik lagi. Setelah pelatihan biasanya peserta meminta disediakan benih dan pakan. Secara tidak langsung, hal ini merupakan pasar yang potensial untuknya. Selain itu, Supardi juga bersedia membeli benih dari hasil pelatihan para pesertanya dan menjualnya kembali pada peserta yang lain.

Ia menerapkan persis seperti yang dilakukan Abah Nasrudin. Saat ini, penulis buku “Jurus Sukses Beternak Lele Sangkuriang” itu bekerja sama dengan Nina, pemilik website ternaklelesangkuriang.com dalam penyebarluasan informasi tentang pelatihan. Peserta dapat mengikuti pelatihan dengan berinvestasi sebesar Rp374 ribu/orang atau Rp425 ribu/orang plus buku. Yang ingin mengikuti pelatihan disyaratkan berjumlah minimal 5 orang peserta dan maksimal 15 orang. Terkadang Supardi juga menjual kolam dari terpal untuk pembesaran lele. “Saya beli sendiri semua rangkaiannya.

Kalau terpal belinya langsung di Bogor,” katanya. Memiliki hasrat sebagai pengajar, ia lantas membangun perusahaan pelatihan strategi dan manajemen di luar usaha lelenya. Dari usaha ini, perusahaannya mampu menggaet sejumlah BUMN dan korporasi besar sebagai kliennya. “Saat ini saya juga kerja sama dengan BTPN (Bank Tabungan Pensiunan Nasional) untuk seminar kewirausahan bagi para pensiunan. Nah saya jadi salah satu pembicara dan follow up untuk lele,” cerita pengusaha yang sejak masa kuliah memang sudah mulai mengajar dan memberikan pelatihan-pelatihan.

Faktor Sukses

Menurut lulusan IPB tahun 2000 ini, faktor utama penentu kesuksesan hanya Allah SWT. Di samping itu, pasti cara perawatan lele merupakan hal yang harus diperhatikan agar mendapat hasil yang optimal. Komponen budidaya lele adalah air, maka pH merupakan hal yang krusial. Tiga hari sekali Supardi selalu mengecek kandungan keasamaan kolamnya dengan pH meter. Ia se lalu menjaga agar ka dar keasamannya ne tral (pH 7). Saat musim hujan, ia menambahkan garam atau air kapur ke kolamnya untuk stabilisasi pH. “Tapi kalau terlalu banyak hujan ya tidak ngaruh,” terangnya. Pada kolam tembok, ia coba mengaplikasikan integrasi akuaponik. Jenis tanam an yang diintegrasikan dengan kolam lele adalah kangkung. Baru mencoba, memang tidak standar tapi saya anggap berhasil karena meningkatkan kesehatan kolam,” akunya.

Hasilnya, ia bisa berbagi panen kangkung dengan para tetangga. Biaya produksi paling besar, menurut pembudidaya lele yang berdomisili di Jalan Tiparsari, Kel. Mekarsari, Kec. Cimang gis, Depok, ini adalah pakan. Ia menyiasati penggunaan pakan dengan mencampur pelet pakan pabrik yang harganya mahal dengan pelet yang harganya lebih murah. Sementara untuk pakan benih lele, ia menyediakan cacing sutra. Secara keseluruhan, konsisten dalam menjalankan usaha saat untung dan terutama saat rugi merupakan hal yang penting. Saat ini, Supardi berencana untuk kerja sama produksi lele beku yang sudah dibumbui dan siap goreng. Semoga saja, konsistensinya berbuah gurih seperti lezatnya lele yang dijual di setiap warung makan.