Categories
Default

Menanti Penambahan Populasi dari Riau

Program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) yang diusung Kementerian Pertanian dilaksanakan di seluruh provinsi se-Indonesia. Program ini menargetkan populasi sapi nasional untuk memenuhi kebutuhan daging sapi yang saat ini masih banyak tergantung impor. Dari catatan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), pada 2017 Upsus Siwab membidik target sebanyak 3 juta ekor sapi bunting secara nasional. Sementara itu, khusus Provinsi Kepulauan Riau dipatok 3.563 ekor sapi bunting dari total 6.039 ekor akseptor. “Target akhir April 2017 sebanyak 1.932 ekor akseptor Inseminasi Buatan (IB). Namun dari laporan yang diterima Ditjen PKH Kementan baru tercapai 368 ekor sampai 18 April 2017,” ungkap I Ketut Diarmita saat jumpa pers di kantornya, Kamis (20/4). Sedangkan untuk target kebuntingan yang sebanyak 1.140 ekor, sudah tercapai 1.022 ekor. Dirjen Peternakan Dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) itu berharap, kinerja IB di Kepulauan Riau bisa lebih ditingkatkan.

Petugas Teknis

Berdasarkan penggolongan wilayah perkembangan IB, Kepulauan Riau termasuk kategori IB semi intensif. Untuk itu, I Ketut Diarmita berujar, masih banyak aspek yang harus segera ditingkatkan. Di antaranya ketersediaan petugas teknis termasuk inseminator, petugas pemeriksa kebuntingan, dan asisten teknik reproduksi, serta medik paramedik yang terlatih dan terampil. Ia juga mengimbau, penambahan petugas lapangan di setiap pulau harus menjadi prioritas. Tujuannya agar daerah kepulauan yang relatif jauh dan masih terbatas sarana transportasinya dapat dijangkau. “Bulan ini ada lima orang dilatih, semoga segera dapat meningkatkan kinerja IB di wilayah Lingga ini,” harap mantan Kelapa Balai Besar Veteriner Denpasar, Bali ini. Pria yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Kesehatan Hewan ini menekankan, dalam menjalankan usaha peternakan perlu dipraktikkan tata cara beternak yang baik, terutama kuantitas maupun kualitas pakan. Selain itu peternak pun perlu memperhatikan pengendalian penyakit, tanda-tanda ternak birahi dan melaporkannya kepada inseminator untuk dilakukan IB. Setelah ternak bunting, ternak harus dijaga supaya dapat beranak dengan sehat dan aman.

Pakan Hijauan

Terkait Upsus Siwab, Bupati Lingga Alias Wello menyiapkan lahan seluas 100 ha untuk mengembangkan hijauan pakan ternak Indigofera. Ia menyampaikan, ketersediaan hijauan pakan merupakan kebutuhan paling mendasar dalam bisnis peternakan sapi. “Kami siapkan lahan 100 ha untuk segera ditanami Indigofera, dan saat ini sudah ada dua investor yang akan masuk,” ungkapnya. Nantinya, menurut Alias, Indigofera akan diproduksi secara massal dan akan dibangun pabrik pengolahan pakannya. “Nanti diolah dalam bentuk pellet yang dapat digunakan untuk pakan unggas, ternak dan ikan, serta dapat diekspor,” pungkasnya. Indigofera merupakan jenis legume (tanaman kacangkacangan) yang sangat baik sebagai hijauan pakan ternak. Selain menyimpan protein kasar cukup banyak sekitar 22%-30%, Indigofera sp. juga mengandung mineral penting yang tinggi, seperti 0,22% kalsium dan 0,18% fosfor. Lebih lanjut Ketut menjelaskan, selain tahan terhadap musim kering, Indigofera tahan terhadap genangan air dan salinitas tinggi sehingga sangat cocok ditanam di daerah kepulauan seperti Lingga. Masih menurut dokter hewan alumnus Universitas Udayana ini, kandungan tanin pada Indigofera sangat rendah, jadi akan disukai ternak. Ia pun menilai hijauan ini sangat bagus untuk pedet sapih, induk bunting, dan menyusui karena dapat dijadikan pakan dasar dan pakan suplemen sumber protein dan energi.