Categories
Default

Meningkatkan Bisnis Pestisida Berkelanjutan

Asosiasi Crop Care Indonesia be kerjasama dengan Manufacturers and Traders League of Agrochemical Agribusiness Global me nyelenggarakan Agrochembiz Show Southeast Asia 2016 bertempat di JS Luwansa Hotel and Convention Center Jakarta pada 6-7 Desember 2016. Pameran perdagangan agrokimia asal Tiongkok ini mengusung tema “Meningkatkan Bisnis Pestisida Berkelanjutan di Indonesia Melalui Kerjasama yang Produktif.”

Menguntungkan

Menurut Joko Suwondo, Chairman Asosiasi Crop Care Indonesia, Agrochembiz Show South East Asia 2016 bermaksud memperkenalkan produkproduk agrokomia unggulan dari negara Tirai Bambu kepada masyarakat dan menemukan mitra kerja yang saling menguntungkan di Indonesia. Acara ini dihadiri para pelaku usaha agrokimia hingga instansi pemerintah, seperti Kementerian Perta ni an dan Kementerian Per industrian. Tujuannya untuk mengetahui perkembangan terakhir bisnis agrokimia, produk, formulasi, dan inova si bahan lainnya. Joko me nam bahkan, tidak kurang da ri 30 perusahaan agrokimia berpartisipasi dalam pameran dagang ini. “Mereka se mua adalah yang terbaik di sek tor agrokimia,” ujarnya kepada AGRINA, Selasa (6/12). Tidak melulu berisi pameran produk, gelaran dua tahun an itu pun memfasilitasi pe laku usaha untuk melakukan temu bisnis dengan perusahaan agrokimia asal Tiong kok.

Sehingga, kata Joko, perusahaan akan memperoleh keuntungan dengan berbisnis dan petani juga untung karena mendapatkan produk yang baik. Ia berharap, pengusaha Indonesia dan Tiongkok dapat menemukan lebih banyak ke sem patan untuk bekerja sama lebih erat melalui pertemuan dan diskusi. Selain itu, Agrochembiz Show South East Asia 2016 juga diramaikan dengan diskusi mengenai biokimia dan biopestisida serta responsible care (kepedulian yang bertanggung jawab), yaitu peduli terhadap industri dan lingkungan. Pameran kedua kalinya ini menampilkan sesuatu yang baru, baik dari jenis maupun formulasinya.

Joko meyakini, pada 2017 bisnis agrokimia akan sangat cerah karena para petani semakin sadar terhadap pemakaian pertisida. Meski demikian, ulasnya, kendala akan selalu ada, di an taranya soal kebijakan registrasi online yang diterapkan pemerintah. “Registrasi non-online waktunya 1,5 tahun selesai. Setelah menerapkan registrasi online malah jadi lebih lama, yaitu 2,5 tahun,” kritiknya. Di sisi lain, petani masih membutuhkan edukasi agar tidak menggunakan pestisida dengan takaran sembarangan.